My Strongest Emak

Leave a comment

December 12, 2015 by Keikoalkayyisah


“Eni!!! Tangi wes subuh!!!” terdengar teriakan emak, dengan malas ku tarik selimut yang melorot sampai ke ujung kaki. Aku tidak menghiraukan teriakan emak, ini masih terlalu pagi menurutku untuk anak usia enam tahun bangun tidur.

Plek, plek, emak memukul pahaku, tidak keras memang tapi itu membuat aku sedikit dongkol. Kenapa emak harus pagi-pagi ke pasar? Dan kenapa aku harus bangun sepagi ini? Pertanyaan itu selalu bersarang dibenakku.

“Cepet bangun! Mamak mau berangkat ke pasar sekarang. Ini duet untuk jajan di sekolah nanti. Cepet tangi sholat!” itulah ocehan emak setiap pagi.

Dengan setengah mengantuk aku terima uang receh lima ratus rupiah, lalu menyalami dan mencium tangannya. Emak pergi, ia berangkat ke pasar. Setelah sosoknya tidak terlihat lagi aku pun kembali tidur dengan tetap menggenggam uang lima ratus rupiah darinya.

***

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, sudah waktunya pulang sekolah. Setelah lonceng sekolah berbunyi dengan cepat aku belari keluar kelas dan dengan tergesa-gesa aku pulang ke rumah.

“Mak!!!” masih lima meter jarak yang harus ku tempuh hingga sampai ke pintu depan rumahku tapi, suara teriakkanku sudah sampai duluan ke telinga emak yang mungkin juga baru pulang dari pasar.

Ku lepas sepatu dan kaos kaki, ku biarkan saja tergeletak tidak rapi di samping rak sepatu, ku lemparkan tas diatas kasur, ku tarik sebagian baju yang masuk ke dalam rok. Kemudian aku menghampiri emak yang sudah membawa minuman gula pasir kesukaanku. Dengan santainya aku duduk menikmati minuman itu sambil menonton tv.

“ganti sek bajune.” Emak memperingatkan aku untuk mengganti baju sekolah dengan baju di rumah. Aku hanya diam, tidak menghiraukan ucapannya.

“En…!” kembali emak memperingatkanku tapi aku tetap diam.

“En!!!” kali ini emak terdengar sedikit keras, dengan kesal aku beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan ke kamar untuk mengganti baju.

Kemudian ku hampiri emak, “mak jajan opo? Aku bertanya soal oleh-oleh kepada emak.

delok’en nang mejo kae.

Dengan tertawa kecil aku berlari menuju meja di dekat dapur, ku lihat banyak jajanan pasar sudah tersusun rapi di atas meja siap untuk di santap. Kedua tanganku pun penuh dengan jajanan-jajanan itu.

***

Sore ini aku berangkat mengaji seperti biasanya, hanya saja setelah ayuk keduaku masuk SMP aku harus berangkat sendiri karena ayukku masih di sekolah untuk kegiatan ekstrakulikuler. Aku sih niatnya tidak ingin berangkat karena harus berangkat sendiri, tapi emak maksa aku berangkat. Dengan muram aku berpamitan, ku cium tangannya. Ku berangkat dengan mengendarai sepeda mini yang besarnya lebih besar dari badanku, emak masih berdiri di depan pintu untuk memastikan aku benar-benar berangkat.

“Brak!” baru beberapa meter aku mengayuh sepeda mini milikku itu, tiba-tiba aku jatuh, kakiku sebelah kiri tertimpa sepeda, aku terdiam, aku tidak bergerak. Entah bagaimana emakku sudah ada di situ, ia berdirikan sepeda mini itu, lalu ia standarkan. Kemudian tangannya membantu aku bangun, dengan pelan dia bersihkan tanah dari baju dan wajahku.

lha piye toh kok isoh tibo?”

Aku hanya diam menahan tangis, kemudian emak menuntunku pulang. Ujung bajuku robek dan terkena oli sepeda, jadi emak mengganti bajuku.

wes, ndang mangkat engko telat. Mlaku wae lak wedi tibo meneh.” Emak masih menyuruhku untuk berangkat, aku kesal padahal kakiku masih sakit. Tapi, aku tidak kuasa menolak perintahnya. Dengan kesal aku berjalan kaki berangkat mengaji, saking kesalnya tidak lagi ku salami emak. Kenapa emak selalu memaksa aku berangkat mengaji? Pertanyaan itu selalu bergelayutan dibenakku.

***

Hari minggu merupakan hari yang sangat menyenangkan, karena aku tidak perlu bersekolah. Dari pagi aku sudah duduk depan tv untuk nonton serial kartun kesukaanku, jam setengah Sembilan semua serial kartun kesukaanku habis. Aku keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman, biasanya kami bersih-bersih mushola tempat kami mengaji. Tapi, aku dan sepupu-sepupuku beserta teman-teman dekatku biasanya menyelinap absen dari bersih-bersih, kami pergi ke sawah. Banyak hal yang kami lakukan, mencari keong emas saat padi sudah di tanam, niatnya bantu petani membasmi hama keong tapi malah kami yang merusak tanaman padi mereka, saat musim panen kami mencari jamur ditumpukan merang, biasanya kami mancing dan juga mandi di sungai. Emak selalu melarang aku mandi di sungai, karena kata beliau itu berbahaya, aku bisa hanyut terbawa arus. Tapi, lagi-lagi aku tidak menghiraukan ucapannya.

Hari sudah siang, aku harus cepat pulang kalau tidak emak bakal marah besar. Sebelum pulang kami biasanya berjemur di atas pohon untuk menghilangkan jejak kami habis mandi, katanya kalau berjemur dibawah matahari tidak akan ketahuan kalau habis mandi di sungai. Ritual berjemur selesai, aku pulang dengan teman-teman dan sepupuku.

“Eni!!!” Mungkin lebih dari lima meter lagi aku harus berjalan untuk sampai di depan pintu rumah, tapi teriakkan emak sudah sampai di telingaku. Ku lihat di depan pintu emak sudah berdiri berkecak pinggang. Mati. Hanya kata itu yang ada di hatiku saat itu, emak pasti tahu apa yang telah aku lakukan. Aku terdiam sejenak, memikirkan solusi untuk menghindari kemarahannya, tapi tidak ada satu pun solusi yang ku dapat. Jika aku lari emak pasti akan lebih marah saat aku pulang nanti, jadi dengan rasa takut aku berjalan menuju pulang. Benar saja masih satu meter lagi aku harus berjalan, emak dengan marahnya menghampiriku lalu menyeretku ke kamar mandi, dengan kesal ia mandikan diriku. Dia menggosok badanku dengan kerasnya. Tangisku pecah, membahana, “mamak jahat! Pak!!! Mamak jahat!!!” kata-kata itu yang keluar dari mulutku setiap kali emak melakukan itu padaku. Emak selalu melakukan itu setiap ia tahu aku habis mandi di sungai atau habis main hujan-hujanan. Aku tidak mengerti mengapa emak marah setiap aku mandi di sungai dan main hujan-hujanan?

***

Seiring dengan bertambah usia hal-hal itu satu persatu hilang, tidak ada lagi teriakan di subuh hari untuk membangunkan aku, tidak ada lagi minuman gula pasir yang emak buatkan, tidak ada lagi gosokan keras di badan saat emak marah. Aku mulai menikmati itu semua, aku mulai melupakan itu semua. Namun, kenangan-kenangan itu tidak ingin beranjak dari benakku, mereka ingin aku tetap mengingatnya terlebih saat aku dan teman-teman perempuanku di sekolah bercerita soal emak masing-masing. Mereka selalu bercerita bagaimana emak mereka menyisir rambut mereka lalu mengganti model ikatan rambut setiap harinya ada model seperti Diana Pungky di serial jinny oh jinny, atau model kepang dua yang menjulang keatas, atau model ribet lainnya. Mereka juga selalu menceritakan bagaimana emak mereka selalu menyuapi dan mengikatkan tali sepatu setiap harinya. Tiba giliranku untuk bercerita entah mengapa aku hanya tersenyum, aku hanya diam. Aku hanya menceritakan hal-hal nakal yang ku lakukan. Entah mengapa aku menjadi sedikit cemburu kepada mereka dan marah kepada emak ku.

Kemarahan ku itu ku luapkan dengan menyibukan diri dengan kegiatan sekolah dan perkuliahan, aku mulai jarang menghubunginya. Aku telah benar-benar lupa akan semua cerita itu. Tidak, aku tidak lupa tapi menyimpannya sangat dalam sehingga ia tidak mampu untuk keluar ke permukaan.

***

Sekarang usia ku sudah dewasa, sudah seharusnya aku hidup mandiri tanpa harus bergantung pada emak. Pada kenyataannya aku masih terjebak dalam kubangan lumpur. Berkali-kali aku mencoba untuk keluar tapi kaki ini begitu lemah untuk lepas dari cengkraman lumpur itu. Saat putus asa seperti ini kenangan-kenangan masa kanak-kanak itu muncul kepermukaan, semua bagai film documenter yang diputar di benakku. Aku mengerti sekarang, aku mengerti semua yang emak lakukan untukku. Aku mengerti mengapa aku harus bangun pagi. Aku mengerti mengapa ia memaksaku untuk pergi mengaji. Aku mengerti mengapa emak melarangku mandi di sungai dan main hujan-hujannan. Mengikat rambut, menyuapi, mengikatkan tali sepatu, bukan karena ia tidak mau, tapi ia ingin aku melakukan itu semua sendiri agar aku terbiasa tanpa bantuannya. Semua itu untukku, semua itu untuk kebaikkan ku, itu semua untuk bekal aku saat usia dewasa seperti ini.

Aku sadar itulah ungkapan cinta dan rasa sayang yang ia miliki untukku, betapa bodohnya aku menyebut emak jahat. Betapa bodohnya aku marah kepada ia dan cemburu kepada teman-temanku. Dan pada saat seperti ini hanya tangannya lah yang dengan tulus terbuka padaku, hanya do’anya yang dengan senantiasa selalu mengalir untukku. Emak aku rindu teriakanmu, aku rindu air gula pasirmu, aku rindu kemarahanmu. Emak tetaplah jadi emakku yang terkuat, hingga sampai aku mampu menjagamu. Emak tetaplah menjadi emakku dan tetaplah sehat untuk menerima rasa cinta dan hormatku kepadamu.

***

 

 

NB       :

Tangi wes subuh                                  : bangun sudah subuh

Duet                                                     : uang

Tangi                                                   : bangun

Opo                                                      : apa

delok’en nang mejo kae                       : lihat di meja sana

lha piye toh kok isoh tibo                     : gimana sih kok bisa jatuh

wes, ndang mangkat engko telat          : sudah, cepat berangkat nanti telat

Mlaku wae lak wedi tibo meneh           : jalan saja kalau takut jatuh

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakanNulisbuku.com dan Storial.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

December 2015
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Terpopuler

Arsip

Anda pengunjung ke-

  • 25,383 hits

Friend

Ngobrol

The Big DayAugust 1st, 2012
Semangat Ramadhan!!! Bentar lage Milad. Bagaimanakah memaknai bertambahnya umur?

Black Orchid and The Death

var nulisbukwidgetid="black-orchid-the-death";http://nulisbuku.com/application/assets/js/widget/mainwidget.js

%d bloggers like this: