NIKMATI SAJA

Leave a comment

November 29, 2015 by Keikoalkayyisah


Tumpukan kertas berserakan, buku-buku berceceran di lantai. Meysa berdiam diri menatap laptopnya. Jari-jari tangannya ikut terdiam di atas tuts-tuts keyboard. Ha…hah. terdengar helaan nafas berat dari Meysa. “Ya ampun, apa yang harus aku lakukan?” Meysa menunduk, tetesan air mata tanpa sadar keluar dari kedua matanya. Jari tangannya menekan tuts backspace. Hilang semua, terhapus semua yang telah diketik. Meysa menghempaskan tubuhnya diatas kasur.

Aroma sedap kopi menelusuk ke lubang hidung, merasuk, membangunkan jiwa-jiwa yang tengah terlelap. Suara rintik hujan masih terdengar. Dingin menusuk tulang. Keyza menyeruput kopinya. “Ha…h…hangatnya…” senyum Keyza puas. Dilihat teman-temannya masih tertidur lelap dibalik balutan sleeping bag. “Bangun-bangun!! Ngopi-ngopi!!” Keyza membangunkan teman-temannya, namun yang dibangunkan hanya menggeliatkan tubuhnya. Kembali Keyza menyeruput kopinya, lalu ia berdiri, keluar dari tenda. Secangkir kopi hangat masih ada ditangannya.

“Oh kamu sudah bangun Ndre?” tanya Keyza ketika ia melihat Andre yang tengah berdiri menatap danau Ranu Kumbolo. Andre hanya berbalik dan tersenyum, kemudian kembali menatap danau Ranu Kumbolo. Keyza berdiri disamping Andre, matanya menatap lepas ke danau Ranu Kumbolo. Indahnya…ucap Keyza dalam hati.

“Gimana kabar Meysa?” tanya Andre tiba-tiba.

“Dia lagi buat proposal penelitian.”

“Oh.”

“Anak itu di kamar…terus…!!”

Andre menatap Keyza, terdengar helaan nafas berat darinya. Kemudian ia kembali menikmati pemandangan yang ada didepannya. Namun, entah apa yang sedang ia fikirkan raut mukannya terlihat sedih.

Tiga hari sudah berlalu. Namun, keadaan kamar itu masih sama. Meysa terpaku didepan laptopnya. Belum ada satu huruf yang ia ketik. Ia baca kembali bahan yang diberikan dosennya. Ia baca, baca, dan baca.

Tok…tok… terdengar suara pintu diketuk berulang kali, tapi Meysa tidak bergeming sedikitpun.

“Mey!!! Ini aku, Keyza. Buka dong!!!”

“Masuk aja, gak dikunci.”

Keyza masuk membawa semangkuk cereal dan sebuah kantung plastik. Ia duduk disamping Meysa. Tanpa disuruh ia langsung menyodorkan satu sendok cereal ke mulut Meysa. Meysa membuka mulutnya, lalu melahap cereal itu.

“Belum selesai, Mey?’

Meysa hanya mengangguk.

“Istirahat dulu Mey.” Kembali Keyza menyuapi Meysa.

Meysa tidak menghiraukan kata-kata Keyza, ia tetap membaca sambil melahap cereal dari Keyza. Merasa tidak dihiraukan, Keyza tampak sedikit kesal. Ia menghela nafas dengan berat lalu meletakkan mangkuk cerealnya.

“Ini oleh-oleh buat kamu.” Keyza menyodorkan kantung plastik yang tadi ia bawa.

Meysa berhenti membaca, ia terima kantung plastik itu. Ia buka lalu mengeluarkan isinya.

“Kaos? Emang kamu dari mana Key?”

“Kamu gak inget? Atau gak denger pas aku pamitan?”

“Mmm…”

“Aku dari Semeru, baru kemaren sampai di Kos. Kamu sih di kamar terus. Ada apa sih Mey? Lagi ada masalah? Cerita-cerita Mey kalau lagi ada masalah.” Ucap Keyza sedikit kesal.

“Proposal aku belum selesai Key, sedang dosen aku udah ngejer-ngejer. Ya…karena itulah aku di kamar terus buat ngerjain tu proposal.”

“Terus hasilnya?”

“Belum ada, gak tau kenapa aku mentok. Otakku gak mau muter. Jangankan satu paragraf, satu huruf pun aku belum ketik.”

Kembali Keyza menghela nafas. “Mey, kamu tu perlu istirahat, terutama otakmu. Dia gak bisa kerja 24 jam non-stop.”

“Tapi…”

“Tapi apa? Kamu sudah deadline, gitu? Lalu, apa dengan kamu seperti ini kamu bisa menyelesaikan proposalnya?”

“…”

“Mey, kamu itu bukan tipe orang yang bekerja dengan sistem seperti ini. Kamu harus sadar itu!”

“Emang aku ini orang yang seperti apa?”

“Kamu itu gak bisa lama-lama berfikir dengan serius, ditengah pekerjaan terkadang kamu butuh hiburan, dengerin musik,ngobrol dengan kita-kita, bersenda gurau, atau apalah. Sekarang? Kamu hanya didepan laptop denga buku-buku materi yang tebal ini. Sedetik pun kamu tidak gak pernah menyapa kami, bahkan kamu gak tau apa yang terjadi di luar.”

“Tapi Key, dengan sistem aku yang dulu. Aku gak bisa mengerjakan itu dengan cepat. Aku hanya ingin lebih serius lagi. “

“Mey, sekarang kamu fikir deh. Sudah berapa lama kamu mengurung diri? Apa yang sudah kamu hasilkan?”

Meysa hanya diam mendengarkan ucapan Keyza. Lama…lama sekali dia terdiam. Melihat respon Meysa yang seperti itu, Keyza semakin kesal.

“Mey…”

“Aku…aku sebenarnya sudah menyelesaikannya jauh-jauh hari. Tapi, aku merasa proposal aku gak akan diterima.”

“Mey, itu hanya perasaanmu. Toh itu nantinya juga akan diperiksa oleh dosen pembimbing. Itulah tugas mereka, membimbing kita. Jadi, bawa aja tulisan kita. Mau jelek atau gak.”

“Tapi…”

“Sudahlah Mey, aku capek ngomong sama kamu. Kamu sudah tau jalan keluarnya, tapi kamu gak mau mengakui itu. Aku cuma gak mau lihat kamu terus-terusan kayak gini. Temen-temen banyak yang nanya’in kamu. Jangan terlalu memaksakan diri. Hidup ini cuma sekali, nikmati itu dan jangan terlalu menekan dirimu.”

Keyza beranjak dari tempat duduknya, ia tinggalkan Meysa dengan semangkuk cereal yang ia bawa tadi.

Meysa hanya terdiam melihat sahabatnya itu meninggalkannya. Ia tampak sedang berfikir, memikirkan ucapan Keyza tadi.

***

Satu pekan setelah perdebatan itu. Meysa masih saja menutup dirinya di kamar, sesekali ia keluar untuk makan, mandi, dan ke kampus, selebihnya ia habiskan waktu di dalam kamar. Setelah hari itu Keyza juga tidak pernah mengunjungi kamar Meysa lagi. Ia sedang sibuk dengan proposal penelitiannya. Apalagi pekan depan ia harus maju buat seminar proposal, jadi banyak hal yang harus ia persiapkan. Sesekali ia sempatkan untuk menengok kamar Meysa, dan mengintip Meysa dari jendela kamar Meysa.

Meysa semakin terpuruk, tidak hanya mengurung diri di kamar tapi ia juga mulai mengurangi komunikasi dengan teman-temannya via handphone, bukan hanya itu ia juga mengurangi menghubungi keluarganya. Ia benar-benar depresi, hasil bimbingan dari dosennya pun sulit untuk ia perbaiki, dia juga mulai mengurangi aktivitasnya di kampus, sehingga ia jarang ke kampus. Dalam satu pekan terkadang ia hanya sehari ke kampus.

Rabu ini Keyza akan seminar proposal, kamisnya ia langsung mendaki gunung untuk kegiatan himpunan jurusannya. Setelah semua persiapan adminitrasi seminar proposal selesai, Keyza langsung kumpul dengan teman-temannya untuk mempersiapkan kegiatan mereka. Keyza tampak semangat, karena akhirnya besok ia seminar proposal juga, selain itu kamisnya ia langsung berkunjung ke gunung yang sudah lama tidak ia kunjungi itu.

“Gimana untuk persiapan kamis Ndre?” tanya Keyza kepada Andre.

“Perlengkapan sudah semua, tinggal kesiapan dari setiap anggota. Apa lagi banyak yang belum pernah mendaki, khususnya yang cewek nih Key. Jadi, kamu harus bener-bener siap dan fit. Kalau ada sesuatu kan kamu bisa menghandle semuanya.”

“Oh, insya Allah lah ya…” senyum Keyza.

“Eh, besok kamu seminar proposal ya?”

“Yups”

“Wes…semangat Key! Semoga lancar, habis itu kita seneng-seneng di puncak.”

“Kayaknya gak bisa seneng-seneng Ndre kalau banyak yang belum pernah naik. Hehehe…”

“Ah, bener juga.” Andre ikut tertawa.

“Gimana kabar Meysa?” tanya Andre kemudian.

“Hm…dia masih saja mengurung dirinya. Coba kamu yang ngomong sama dia Ndre. Omonganku gak mempan nih.”

“Pesan aku aja gak dibalas. Gimana kalau kamu ajak dia ikut kegiatan ini? Dia kan paling seneng ngeliat tanaman-tanaman tu. Apa lagi yang belum pernah dilihat sebelumnya.”

“Keluar kamar aja susah, gimana mau diajak naik gunung? Tapi, ku coba dulu nanti.”

Mereka berdua saling mengacungkan jepol mereka. Keyza dan Andre pun memeriksa semua perlengkapan pendakian. Tidak lama kemudian semua anggota pendakian datang ke sekretariat.

Sore itu, Meysa tampak sangat lunglai. Tidak seperti biasanya, laptopnya kali ini mati. Ia pun hanya tergeletak di atas kasur tidak berdaya, tumpukan kertas masih berserakan di lantai, begitu juga dengan buku-buku tebal miliknya. Meysa terlihat sangat tertekan, kemudian ia raih beberapa lembar kertas yang berada disamping tubuhnya. Ia baca kertas itu. Tapi, kemudian ia lemparkan kertasnya itu. Ia pejamkan matanya.

Tok, tok…terdengar suara pintu diketuk beberapa kali. Tapi Meysa tidak bergeming sama sekali.

“Mey, ini aku Keyza. Enggak dibuka juga gak apa-apa. Aku Cuma mau ngasih tau, kamis aku mau ndaki lagi bareng temen-temen himpunan. Kamu ikut ya? Kamu kan udah lama gak ngumpul bareng, kamu juga pernah bilang pengen ndaki sekali-sekali kan? Oh ya, Andre juga ikut.”

“…”

“Udah, aku cuma mau ngasih tau itu aja.”

Keyza langsung pergi menuju kamarnya. Meysa masih tidak bergeming, ia tidak mengatakan satu patah kata pun. Namun, ia membuka kan matanya, ia mendengarkan baik-baik apa yang Keyza katakan. “kamis?” ucapnya pelan.

Dalam lubuk hatinya Meysa ingin sekali ikut pendakian kali ini. Tapi banyak hal yang kemudian mengganggu pikirannya.

***

Selesai juga seminar proposal Keyza. Ia langsung menuju ke sekretariat himpunannya.

“Key! Selamat ya!”

Belum juga sampai ia ke sekretariat, ia sudah disambut ucapan selamat dari Andre dan teman-teman yang lain yang sedang berada di luar sekretariat. Keyza pun langsung menghampiri teman-temannya itu.

“Ah, akhirnya. Lagi ngapain kalian?”

“Cek ulang, siapa tau ada yang kurang.” Jawab Andre.

“Jadi, ada yang kurang?”

“Headlamp kurang dua. Oh iya, Meysa jadi ikut besok?”

“Belum tau, belum ada jawaban dari dia.”

Kemudian keduanya hanya terdiam. Keyza, meletakkan tas gendongnya, kemudian membantu Andre dan yang lainnya.

***

Sore itu semua anggota pendakian berkumpul, semua mengecek perlengkapan sekali lagi. Keyza melihat sekeliling mencari seseorang. Dia berharap Meysa akan ikut kali ini, dia sangat rindu dengan suasana kebersamaan mereka.

Akhirnya semua persiapan selesai, semua berkumpul untuk memberikan sedikit arahan, dan dilanjutkan dengan do’a bersama. Kemudian semua berjalan ke bus yang telah mereka sewa. Semua anggota sudah masuk ke dalam bus, namun Keyza masih saja berada di luar. Keyza tampak sedang mencari-cari seseorang.

“Ayo Key masuk, kita mau berangkat!”

“Bentar lagi Ndre.”

“Kamu nunggu siapa?”

“Meysa lah. Aku yakin dia pasti ikut.”

Kemudian Andre keluar dari bus, dan menghampiri Keyza yang duduk dipinggir jalan. Tidak lama kemudian tampak sesosok yang sedang berjalan ke arah mereka. Sosok itu, mereka sangat mengenal sosok itu. Keyza kemudian berdiri menyambut sosok itu yang semakin dekat.

“Hai, Key! Aku ikut ya? Masih bisa?” sosok itu adalah Meysa yang mereka tunggu-tunggu.

Keyza hanya tersenyum, kemudian memeluk erat Meysa. Andre hanya berdiri dan tersenyum melihat adegan itu. Kemudian Keyza mempersilahkan Meysa masuk ke dalam bis.

***

Tidak ada yang lebih indah dari sebuah kebersamaan, itu yang sedang Keyza rasakan selama perjalanan pendakiannya. Ia tatap satu persatu teman-temannya semua tampak serius dengan kegiatan ini. Meneliti jenis tanaman di sepanjang jalur pendakian, melihat, mengidentifikasi, mencatat, memotret, sungguh suasana yang sangat indah, kebersamaan yang selalu dirindukan. Tatapan mata Keyza terhenti pada sosok Meysa yang sedang asyik mengamati kantong semar disampingnya. “hah senyum itu, senyum yang ku rindukan darimu Mey” ucap Keyza dalam hati.

“Kayaknya kamu nikmati banget Mey?” tanya Keyza.

Meysa menjawab pertanyaan itu dengan senyuman. Cukup dengan senyuman itu Keyza sudah mengerti jawaban yang diberikan oleh Meysa.

Sore hari mereka sampai di pelataran gunung Dempo, tenda sudah terpasang. Beberapa anggota sibuk mempersiapkan makan malam. Keyza berdiri sedikit menjauh dari teman-temannya, ia menatap langit yang memerah, di barat sana matahari memberikan salam perpisahan dengan sinar kemerah-merahannya yang begitu indah menerpa awan-awan yang berjejer di langit sore itu. Meysa menghampiri Keyza, ia ikut berdiri dan memandang keatas.

“Indah kan?”

“Iya, indah banget Key”

Keduanya tersenyum lebar. Keyza memandang Meysa sambil tersenyum.

“Nah Mey, apa kamu masih ingin ngurung diri di kamar?”

Lagi-lagi Meysa hanya tersenyum.

“Mey, sesulit apapun masalah yang sedang kamu hadapi bukan hal yang benar kalau kamu mengurung dirimu. Itu gak akan menyelesaikan masalah. Dengarkan hatimu Mey. Kalau ia mengatakan tidak sanggup, maka katakanlah hal yang sama. Jika, ia ingin menangis maka kamu juga harus menangis. Bukan hal yang memalukan jika kita menangis, masih ada waktu untuk memperbaiki semua, masih ada jalan untuk memulai semuanya Mey.”

“Key, aku hanya ingin fokus tapi ternyata benar katamu aku gak bisa dengan sistem seperti itu yang ada malah aku semakin depresi.”

“Coba nikmati saja Mey, jalani saja semuanya. Nikmatilah, seperti kamu menikmati pemandangan ini Mey. Ingat masih ada aku, Andre dan teman-teman yang lain. Mari kita jalani semuanya bersama-sama Mey, mari kita bernyanyi bersama seperti semua mahluk yang ada di alam ini yang selalu bernyanyi bersama-sama.”

Meysa mengalihkan pandangannya ke Keyza, ia sadar ia masih memiliki sahabat-sahabatnya yang selalu berjalan bersama disampingnya. Senyum lebar semakin mengembang di wajah Meysa.

Kembali keduanya menikmati pemandangan sore itu, udara semakin dingin, sinar matahari pun semakin menghilang berganti dengan malam yang hitam pekat. Rintik hujan mulai turun, Keyza dan Meysa kembali ke teman-temannya. Mereka menikmati hidangan makan malam dan secangkir kopi hitam. Senda gurau menyelimuti kebersamaan mereka. Malam semakin larut, selarut perbincangan mereka. Dinginnya malam tidak mampu mengalahkan hangatnya kebersamaan mereka. Kebersamaan itu, perbincangan itu bagai sebuah nyanyian. Nyanyian riang yang mengusir kegundahan hati, seperti nyanyian alam malam ini yang mengusir kegelapan.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

November 2015
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Terpopuler

Arsip

Anda pengunjung ke-

  • 25,383 hits

Friend

Ngobrol

The Big DayAugust 1st, 2012
Semangat Ramadhan!!! Bentar lage Milad. Bagaimanakah memaknai bertambahnya umur?

Black Orchid and The Death

var nulisbukwidgetid="black-orchid-the-death";http://nulisbuku.com/application/assets/js/widget/mainwidget.js

%d bloggers like this: