Tester: Black Orchid and The Death

Leave a comment

October 10, 2015 by Keikoalkayyisah


The First Death
12 Agustus 2014
00.01 WIB: Laboratorium Pemuliaan Tanaman
“Si… siapa kamu?” professor Ridho terlihat sangat terkejut dengan kehadiran seseorang secara tiba-tiba di laboratoriumnya. Namun, orang itu hanya tersenyum melihat ekspresi professor. Orang itu mengeluarkan sebuah kertas lalu menunjukkan kepada professor. Professor semakin takut melihat kertas itu.
“A…aku tidak bersalah! Aku hanya…” professor semakin ketakutan dan memohon dengan berlutut.
“Tenang prof saya kesini hanya ingin anda melakukan sesuatu.” Senyumnya semakin lebar.
“Cepat tulis dalam kertas itu! Begini, „Aku minta maaf, aku bersalah‟ Eh, bukan!” orang itu mondar mandir didepan professor. “Begini, „aku telah membunuh‟ ya seperti itu!” menatap professor dengan tatapan tajam dan tersenyum sangat lebar, senyum penuh dengan kemarahan, kesakitan. Namun, professor hanya terdiam dan menelan ludah. Dia terdiam untuk beberapa saat.
“Cepat!” orang itu membentak dan melemparkan kertas serta pulpen ke professor. “Kalau anda tidak segera …” menodongkan pistol ke wajah professor. Professor semakin ketakutan, keringat mengucur dari pori-pori kulitnya. Ia pun mengambil kertas dan pulpen itu, lalu menulis apa yang diminta oleh orang itu. Setelah professor selesai menulis tiba-tiba, “Dooorr…!” terdengar suara tembakkan dari dalam laboratorium professor Ridho malam itu.
***
12 Agustus 2014
06.30 WIB: Laboratorium Pemuliaan,
FP, Universitas Anak Bangsa
Keramaian terlihat berbeda dari biasanya, karena ada beberapa polisi lalu lalang dan tanda police line dipasang di luar laboratorium, baik petugas laboratorium maupun mahasiswa dan dosen tidak diperbolehkan memasuki laboratorium. Wartawan ikut meramaikan kerumunan di laboratorium pagi itu. Tampak sesosok misterius ditengah kerumunan, ia menyeringai penuh dengan kepuasan lalu sosok itu menghilang, meninggalkan kerumunan.
“Aneh, jika ini pembunuhan. Kenapa pintu terkunci dari dalam? Kalau pun bunuh diri, lalu kemana pistol yang digunakan? Seharusnya ada di tangan mayat” gumam Reza anggota sektor 11 dari kesatuan polisi metrojaya yang memeriksa laboratorium dan jenazah professor Ridho.
“Pak, ini sangat aneh. Lalu apa maksud dari tulisan yang dibuat oleh korban?” kata Reza kepada Hary pimpinan dari sektor 11. “Ya, ini sangat aneh. Kita tidak bisa menemukan bukti apapun disini. Sayang sekali belum ada cctv disini.” Sahut Hary.
“Pak lihat, aku menemukan sebuah kartu di atas mayat korban!” teriak Ian anggota sektor 11.

Reza dan Hary menghampiri Ian, kemudian Hary mengambil kartu tersebut. Disana tertulis angka 12 dan terdapat gambar anggrek serta tulisan “black orchid” dipojok bawah kartu tersebut.
“Pak berarti ini…” ucap Reza kepada Hary.
“Ya, jelas ini sebuah pembunuhan. Tapi, bagaimana dan siapa?” sahut Hary.
“Reza, Ian! Periksa setiap sudut laboratorium, lihat apa ada hal yang mencurigakan. Dan, kalian, Nina, Hendra interogasi semua petugas laboratorium, dosen, dan mahasiswa jurusan pemuliaan tanaman yang terakhir menggunakan labratorium serta berinteraksi dengan korban, jangan lupa OB dan juga penjaga malam! Perintah Hary.
“Siap Pak! Sahut keempat anggota sektor 11 tersebut.
Mereka pun pergi meninggalkan Hary dan melakukan tugas mereka. Reza pergi kesetiap sudut laboratorium terkhusus pintu dan jendela laboratorium. Ia mengamati dengan seksama setiap sentinya dengan harapan dia dapat menemukan sesuatu yang bisa membantunya memecahkan kasus ini. Ian fokus dengan tubuh korban dan benda-benda yang ada disekelilingnya. Tidak lupa mereka berdua mengambil gambar TKP.
Sedang Nina dan Hendra, mereka mulai melakukan pekerjaan mereka. Mengumpulkan semua orang yang memiliki peluang untuk melakukan itu. Mereka berbagi tugas, Nina memulai dengan menanyai dua orang office boy yang menemukan mayat profesor Ridho dan Hendra dengan para mahasiswa professor Ridho. Ketika semua anggotanya sedang sibuk dengan bekerjaan masing-masing, Hary masih terpaku sambil menatap dalam pada kartu yang ditemukan di atas tubuh profesor Ridho.
Setelah Reza dan Ian selesai melakukan pemeriksaan, mereka mengumpulkan beberapa benda yang mungkin bisa dijadikan petunjuk sekaligus barang bukti termasuk kartu yang dipegang oleh Hary. Nina dan Hendra juga telah selesai melakukan tugasnya. Semua orang yang diinterogasi, ternyata mereka semua memiliki alibi. Hal ini semakin membuat mereka bingung. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke kantor polisi. Sementara itu, mayat profesor Ridho dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan secara forensik.
***
12.00 WIB: Taman Kota
Reza membeli minuman dingin, lalu meneguknya. Hah, hari sangat panas seperti biasanya kota Jakarta. Sambil menikmati minumannya pikiran Reza masih berkutat dengan kasus tadi pagi. Ia berfikir keras untuk memecahkan kasus ini. “Kasus apa ini? Mengapa tak ada sedikit pun petunjuk?” gumam Reza. “Argh… kepalaku mulai terasa pusing”, kembali Reza bergumam.
Saat Ia sedang berfikir keras tiba-tiba matanya terpaku pada suatu hal. Dilihatnya seorang gadis dengan busana yang aneh sedang menolong seekor kucing yang hampir tenggelam di danau taman kota. Melihat gadis itu kesusahan, Reza pun mendekati gadis itu dan menolong kucing tersebut. Si gadis tersenyum bahagia karena akhirnya kucing itu terselamatkan, tanpa menghiraukan Reza gadis itu lalu mengambil handuk dari tas nya dan membersihkan kucing yang malang itu. Merasa diacuhkan Reza membungkuk dan menatap sang gadis dengan seksama. Gadis itu pun merasa dirinya sedang diperhatikan. Kemudian Ia menatap Reza, lalu tersenyum.
“Maaf, maaf. Terima kasih ya sudah membantu.” Kemudia Ia kembali membersihkan kucingnya.
“Seharusnya yang kamu beri handuk itu aku, bukan kucing itu. Aku juga basah tau!”
Reza duduk di kursi di samping gadis itu. Si gadis hanya tersenyum kepada Reza.
“Siapa namamu?” Tanya Reza.
“Pandu!” jawab Pandu samba tersenyum.
“Hey, emang gak capek senyum terus?”
“Namamu siapa?”
“Tidak menjawab malah balik tanya. Namaku Reza.”
“Reza? Mmm… senyum itu ibadah Reza, selain itu senyum membuat kita menjadi selalu merasa bahagia, walau dalam keadaan sulit sekali pun. Mengerti?”
Reza tidak terlalu menghiraukan ucapan Pandu, ia hanya memandangi Pandu, menurutnya ada yang aneh dari gadis ini. Dia baru sadar kalau yang aneh dari gadis itu adalah busananya. Ia tidak pernah melihat gadis-gadis di sini memakai pakaian seperti itu.
“Mmm…busana apa yang kamu kenakan?”
Pandu terperangah mendengar pertanyaan Reza. Menurutnya kurang sopan seorang laki-laki menanyakan kepada seorang gadis tentang busana yang dikenakan.
“Eh? Maaf, maaf. Aku gak bermaksud apa-apa, hanya aneh saja dengan busanamu.”
Lagi-lagi pandu tersenyum begitu manis. Hal ini menarik perhatian Reza dan membuat Reza semakin penasaran dengan gadis itu.
“Hmm…ini namanya Lolita fashion yang merupakan salah satu mode fashion dari Jepang yang terinspirasi pada era Rococo dan Victorian, namun tetap dipadu dengan tren fashion saat ini. Biasanya tokoh-tokoh manga Jepang banyak menggunakan pakaian Lolita seperti Misa Amane dalam komik Death Note yang mengenakan punk Lolita. Nah, selain Lolita aku juga suka gaya frilly clothes. Tau manga Deka wanko tokoh utamanya Hanamori Ichiko mengenakan pakaian frilly dan juga lolita, bahkan dramanya yang diperanin sama Tabe Mikako juga mengenakan pakaian yang sama. Tabe-chan kelihatan sangat imut. Tapi karena aku seorang desainer jadi ku buat baju Lolita dan frilly sesuai selera ku. Lihat, ini ada aksen batiknya”
Penjelasan panjang lebar dari pandu membuat Reza manggut-manggut saja, seolah-olah ia mengerti tentang fashion, mau Lolita atau pun frilly ia sama sekali tidak mengerti.
“Oh. Kamu suka manga dan anime?” Tanya Reza kembali
“Yups!”
“Apa manga yang paling kamu sukai?”
“Detective conan!”
“Heh?sama dong!”
“Sungguh?”
Akhirnya percakapan mereka berlanjut ke kegemaran mereka yang ternyata sama. Bukan hanya soal manga dan anime, novel pun mereka mempunyai novel kesukaan yang sama.
***
Di tempat lain, tepatnya orchids company milik keluarga Gunawan yang merupakan sebuah perusahaan pemuliaan tanaman anggrek ternama di negeri ini terjadi sesuatu ketegangan di ruangan presiden direktur. Wajahnya terlihat sangat tegang, ia seolah-olah sedang tidak mempercayai sesuatu yang sedang terjadi. Tiba-tiba masuk sekretarisnya untuk memberikan sesuatu.
“Maaf pak mengganggu, tapi saya menemukan ini di meja saya. Tapi surat ini ditujukan ke bapak.” Sambil memperlihatkan sepucuk surat.
Gunawan mengambil surat itu, lalu membukanya. Ketika membaca surat itu wajah Gunawan semakin tegang lebih tepatnya terlihat pucat. “Apa ini?” gumamnya.
“Ada apa pak? Kenapa…” Rani sang sekretaris pun tampak bingung dengan reaksi atasannya tersebut.
“Ah tidak ada apa-apa, kamu boleh keluar.”
Kemudian sekretaris tersebut keluar. Kembali Gunawan membaca surat itu. Ia berfikir keras apa maksud dari surat ini.
“Hah? Mungkinkah? Mungkinkah ada hubungannya dengan kematian Ridho?” ucapnya dalam hati.
Kemudian dengan terburu-buru ia menghubungi seseorang melalui handphonenya. Terjadi percakapan yang cukup serius antara Ia dan orang diseberang sana. Namun, tiba-tiba dengan ekspresi kesal Ia menutup teleponnya.

…to be continue (silahkan baca novel Black Orchid and The Death)…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2015
M T W T F S S
« Apr   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Terpopuler

Arsip

Anda pengunjung ke-

  • 24,834 hits

Friend

Ngobrol

The Big DayAugust 1st, 2012
Semangat Ramadhan!!! Bentar lage Milad. Bagaimanakah memaknai bertambahnya umur?

Black Orchid and The Death

var nulisbukwidgetid="black-orchid-the-death";http://nulisbuku.com/application/assets/js/widget/mainwidget.js

%d bloggers like this: