Tekad dan Mimpi di Bumi Allah: Edisi Mahameru 3676 Mdpl (part 1)

Leave a comment

September 23, 2013 by Keikoalkayyisah


“Semua Berawal Dari Sebuah Mimpi Dan Terwujud Karena Tekad” (eni sang sutradara, 6 – 09 – ’13)


Setiap manusia pastilah mempunyai mimpi, dan setiap manusia berhak mewujudkan mimpi – mimpinya, begitu juga aku. Terlalu banyak mimpi yang ingin diwujudkan salah satunya yaitu menyatu dengan alam, berada dalam tubuh alam, sepertinya indah. Menyatu dengan alam, merasakan apa yang ia rasakan, menjadi bagian dari dirinya merupakan suatu hal diluar kebiasaan ketika kita dihadapkan dengan rutinitas yang seabrek. Menjadi bagian dari alam, menelusuri setiap lekuk keindahannya merupakan salah satu seni menikmati hidup. Aku pun akan segera mewujudkan mimpiku bersama sang alam.

Langkah kaki ku begitu mantab menapaki bumi Allah ini, hari ini 6 September 2013 sebenarnya aku tak melakukan hal yang istimewa atau diluar kebiasaan. Hanya pergi ke Kampus, tapi yang bikin semangat adalah hari ini persiapan aku menuju ke mimpi ku. Cukup pagi bagi mahasiswa yang tak ada kuliah untuk pergi ke kampus. Di DPR (dibawah pohon rindang) tempat favoritnya anak – anak faperta Unsri nongkrong, aku menunggu satu sosok. Akhirnya, ia datang juga. Lili, itu namanya dia lah yang akan menjadi patner ku dalam mewujudkan mimpiku kali ini. Langsung aja aku dan Lili melesat ke pojok fakultas ini, tepatnya di jurusan HPT. Di sana kami sudah ditunggu oleh seseorang yang tak asing lagi bagi kami, namanya Rizky Randal C. yah, hari ini aku dan Lili akan mempersiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan dalam perjalanan nanti. Dikeluarin satu persatu barang yang kami butuhkan. Banyak bener!!! (teriakku dalam hati). Karena ada beberapa hal yang belum lengkap akhirnya kami harus kesitu lagi sore nanti, sekalian mungkin akan ada wejengan dari abang (Rahmat Febri) kawan sekelasku.

14.30 WIB, aku dan Lili kembali ketempat itu. Sudah ada abang dan Rizky duduk menunggu kami. Yah, kami kembali menyiapkan barang – barang yang diperlukan. Seusai itu, ternyata ada kuliah tambahan dari Abang. Banyak bener yang ia sampaikan kepada kami. Luar Biasa!!!

8 September 2013, pkl. 06.00 WIB, Rizky sudah berada di tempat kami akan berangkat eh malah kami nya masih di kos masing – masing. Barang – barang bawaan kami, ia bawa ke tempat itu, ketika akan menaikki travel Rizky bicara kepadaku,”kira – kira keangkat gak en?”
“keangkat o!”jawabku sambil lirik itu carrier. Wah, ceme’eh ini anak ucapku dalam hati.

07.00 WIB travel telah sampai ke stasiun kereta api. Lili sibuk menukar tiket, sedang aku sibuk menghubungi Abang, maklum cover tenda belum ada. Tiga puluh menit sudah berlalu, belum juga abang menampakkan batang hidungnya. Akhirnya kami putuskan untuk masuk kedalam stasiun. Hm. . .bagaimana ini fikir ku. Jam 7.50 WIB handphone ku bergetar, nah telpon dari Abang. “dimana en? Aku di depan stasiun.” Suara dari sebrang. “masuk aja Bang!” jawabku. Aku bergegas menuju pintu keluar, ku lihat sosok yang sedari tadi kami nanti. “Sorry ya telat” ungkapnya. “gak apa Bang! Santai. . .”

Aku kembali ke dalam untuk segera memasuki kereta karena jam 08.00 WIB kereta akan berangkat menuju Lampung. “hati – hati en!” terdengar teriakkan dari Abang. Aku pun hanya mengacungkan ibu jari ku kepadanya. Yups, hari ini aku dan Lili akan ke Lampung untuk kemudian dilanjutkan ke pulau Jawa dengan tujuan Malang, kami akan menjejakkan kaki kami dipuncak tertinggi di pulau Jawa, Mahameru. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan memang namun, seperti yang ku ungkapkan diawal tadi menyatu dengan alam dan menjadi bagian dari tubuhnya akan menjadi seni tersendiri dalam menikmati hidup. Dan mereka berdualah yang telah banyak berjasa mempersiapkan segala perlengkapan, soalnya aku tak punya semua itu. Terima kasih banyak buat Abang dan Rizky.

Hampir pkl. 21.00 WIB, akhirnya kami sampai juga di bumi Ruwa Jurai, tanah kelahiranku, miniaturnya Indonesia. Rintik hujan menyambut kedatangan kami, ada rasa tak enak di hati karena kami bakal dijemput oleh akhwat yang dikenalkan oleh k’ Mubaroq Dinata (Mudin) untuk menampung kami selama di Lampung, namanya mb’ April. Wes, dengan kuda besi ia dan mb’ Wina menjemput kami. Rintik mulai berhenti, kuda besi yang kami naikki melaju cukup kencang. Bolehlah akhwat – akhwat ini. Yah, selama semalam dan sehari kami menginap di kos mb’ April, mengobrak abrik kos nya.

Pkl. 20.00 WIB (9 September 2013), kami dibawa ke sekret KAMMDA Lampung, karena rencana ketemuan sama k’ Mudin dan K’ Nofra disini. Sampai disana lengang, sepi. Hm. . .keluar orang yang namanya k’ Mudin, “bentar ya nunggu Nofra”, tukasnya. Cukup lama menanti adalah 30 menit kami menunggu kedatangan k’ Nofra, hadew. . .jadi santapan nyamuk kami disitu. Akhirnya dateng juga orang yang ditunggu – tunggu, kami langsung deh cabut ke terminal Rajabasa, dan ini pengalaman pertama aku pergi ke Jawa dengan ngeteng. Jzk buat k’ Mudin dan K’ Nofra atas pengalamannya dan telah menjadi kakak yang baik buat kami.

* * *

            12 September 2013. Peluh menguasai diriku, ia bak raja yang memerintah rakyatnya. Rasa lelah menelusuk kesetiap persendianku, aku pun berjalan dengan sisa – sisa tenaga di tubuhku. Sial! Ucapku dalam hati. Baru berjalan beberapa langkah aku sudah lelah begini, tak seperti biasanya. Ku lihat kawan–kawan ku, mereka terlihat biasa–biasa saja. Arrg. . .semakin tak enak rasanya, merepotkan. Akhirnya aku sibuk dengan diriku sendiri, bertanya–tanya ada apa gerangan dengan aku. Suasana hati makin tak tentu, membuat aku tak menikmati perjalanan ini. Hm. . .mencoba menenangkan diri, menata kembali kepingan–kepingan hati yang berceceran sepanjang jalan Palembang – Malang, menyusun puzzle–puzzle keikhlasan dalam hati. Kriuuk. . .suara cacing dari perutku menambah suasana diskusi diri semakin tegang. Yah lapar, membuat aku sulit dalam menenangkan diri. Pertengkaran antara tekad dan ego ku tak dapat dielakkan, mereka saling adu argument, aku hanya mampu mendengarkan. Hm. . .suasana di perut berubah, seperti bukan hanya lapar yang menguasai perut ini. Arrg. . .apa ini? Suasana apa ini? Sebentar ku nafikkan keruwetan diri, melihat sekeliling, hening ku rasa. Mata ku tertuju pada pemandangan disekitar, Masya Allah rasa takjub sedikit mengambil ruang didiriku, mengalihkan perhatianku dari keruwetan diri. Satu persatu ucapan kawan–kawan ku sebelum berangkat melintas dibenakku.

“en, saat melakukan perjalanan itu kita harus enjoy. Pokoknya buat enjoy ajalah.” Kata–kata abang.

“Inget, Naek gunung itu bukan bagaimana kita menaklukan gunung itu, tpi bagaimana kita menaklukkan diri kita sendiri.” Kata – kata Rizky Randal C.

“kalau mulai drop, inget duet yang uda keluar en.” Kata – kata abang.

Bla bla bla. . .

Senyum tipis terlukis di wajah ku. Oh, thanks guys. Kembali ku tata kepingan hati ku. Innamal a’malu binniat, aku mencoba menyadarkan diri ini agar kembali pada niat awal mengapa aku ada disini. Perlahan–perlahan hati ini mulai tenang. Pertengkaran pun mulai mereda, karena sang tekad sepertinya mampu menguasai ego ini.

“Posko satu!” ntah teriakkan siapa itu, sepertinya k’ Ade. Kami pun beristirahat. Banyak yang bertanya ada apa dengan diriku, aku pun hanya menjawab, “aku lapar, lapar banget” sambil nyengir menahan rasa lapar. Yah, karena memang saat ini yang ku rasa hanya lapar, tak mungkin juga ku ceritakan keruwetan diriku selama perjalanan dari Ranu Pane hingga posko satu ke kawan–kawan kan? Beberapa dari mereka sibuk memberi aku makan, khususnya para akhwat. Si Lili memberi aku makan roti dipadu dengan madu, sedikit maksa sih ini anak. Akhirnya ku lahap juga. Sambil menikmati setiap gigitan dan kunyahan roti ini sayup–sayup ku dengar beberapa orang berbicara dengan ku.

“Ini janjinya Cuma sampai posko satu lho,” sepertinya itu ucapan dari k’ Husain yang membawakan carrier aku.

“Ah, eni dari lampung semangat, . . .” kata k’ Arjun (Cuma inget sebagian, he. . .)

Suara celoteh riuh yang aku pun lupa apa bunyinya dari si Rizky Maulan C.

Dan omongan senior k’ Yusef dan k’ Yuda yang bikin aku nambah nyengir, nyinggung-nyinggung HPA gitu. Sudahlah, ku nafikkan semua hiruk pikuk, ku nikmati roti buatan Lili. Hm. . .masih setengah ku makan yang setengah ku bungkus tisu lalu ku masukkan dalam kantong jaket. He. . .hemat beb.

“ayo berangkat, posko dua deket kok!” sepertinya begitu bunyinya teriakkan sang leader (K’ Ade)

“eni gimana? Kuat gak? Kalau gak biar carriernya dibawa ikhwannya.” Ucap ela dan akhwat yang lain.

Hm. . .fikirku, tak bisa seperti ini. Toh ikhwannya juga bawa berat. Ku yakinkan diriku, aku bisa. Akhirnya, ku rebut kembali kekuasaan atas diriku, peluh tak berhak atas diri ini, aku pun duduk di singgasana kerajaan diri. Mengusir lelah dari setiap persendian. Menguatkan sang tekad. Dengan sisa tenaga ku katakan dengan ketegasan, tidak! Akan ku bawa sendiri. Aku pun berdiri, menghampiri carrierku dan set, ku kenakan carrier ini. Melihat posisi carrier yang sepertinya kurang pas akhirnya k’ Husain mencoba membenarkan posisi carrier aku, terima kasih dah buat k’ Husain. Sip, aku pun siap melanjutkan perjalanan. “eni yakin kuat?” Tanya ela sok perhatian (he. . .emang dia perhatian kok). “insya Allah bisa, ayo berangkat!” ucapku. Kami pun berjalan dengan formasi yang berbeda, sekarang leader kami tak didepan kami lagi, tapi si ela yang didepan disambung sang menejer Detty, lalu aku, ada lutfi di belakangku, disambung lili, nah ada teh nurul, mb’ dwi dan isma (lupa urutan mereka bertiga).

Aku ingin menikmati perjalanan ini, akhirnya ku buat suasan jadi enjoy. Yah, ku ajak si ela berceloteh (maklum, kalau aku diem kerasa capeknya). Kami pun berdendang bersama sang menejer kami, Detty. Oh ya, aku dan ela buat group namanya e2 yang dimenejeri sama si Detty. He. . .ini group iseng, karena kami berdua sering ngoceh gak jelas, membuat suasana riuh, maaf ya buat para akhwat yang mungkin terganggu. Entah sudah berapa lagu  kami dendangkan, kalau sudah satu album. Seperti inilah terus sepanjang perjalanan hingga di Ranu Kumbolo. Rasa lelah sepertinya lelah menghampiriku, sebelum sampai di posko empat kami beristirahat sejenak. Ku tatap langit yang hitam pekat berhiaskan sang bintang kecil yang sedang berdendang menghibur sang rembulan. Aku jadi ingat sesuatu. “hayo, gimana kalau orang buta nyanyi bintang kecil? Tanya ku pada para akhwat. Mereka diam, dari tempat tak jauh dari kami duduk terdengar suara bringsik. “itu eni, pasti eni” huh kenal sekali aku dengan suara itu, empat orang yang reseh (Rizky, k’ Mudin, K’ Nofra, & K’ Arjun). Yah, walau reseh cukup menghibur kehadiran mereka. Cukuplah untuk ngusir kebosanan, makasih deh buat kalian. Payah gak ada yang tau. Akhirnya ku ajak si Ela menyanyikannya, seperti ini penggalan syairnya. “Bintang kecil, katanya–katanya. Di langit yang tinggi, katanya–katanya. . . “ begitulah kami berdendang walau dengan suara sangat pelan, soalnya ada ikhwan dideket kami.

* * *

            Ranu Kumbolo, walau malam menutup keindahannya namun lampu–lampu senter dari pengunjung dan tenda – tenda yang telah terlebih dulu berdiri membuat keindahan itu menyeruak ditengah kegelapan malam. Akhirnya kami nge-camp di area dekat rakum walau jauh dari posko rakum. Dingin, menelusuk hingga ke sum sum. Brrr. . .entah berapa suhu saat ini. Hal ini membuat Lutfi kedinginan hebat, dan Isma entah ada apa sepertinya dia drop. Setelah tenda siap mereka berdua segera dibawa masuk ke tenda. Detty dan Ela yang merawat mereka. Lantunan dzikir dan ayat Al Qur’an dari handphone membuat suasana sedikit hangat, akhirnya kami (mb’ Dwi, Lili, Teh Nurul, dan aku) masak untuk makan malam ini. Sup, itu menunya. Hm. . .dengan menahan dingin kami mencoba melakukan yang terbaik untuk hidangan malam ini. Lili dan teh nurul sibuk menyiapkan bahan–bahan masakan, mb’ Dwi sibuk mau goreng telur, awalnya aku hanya menatap mereka dengan takjub. Akhwat–akhwat tangguh. Ku coba memberanikan diri menghampiri mb’ Dwi, karena dari beliau datang aku belum bisa mengambil celah ngobrol yang pas dengan mb’ Dwi. Lelucon aku dan Ela ditanggapi dengan dingin, capek deh kami ngoceh.

“Ada yang bisa dibanting?” canda ku sambil menawarkan bantuan.

Mb’ Dwi menyunggingkan senyum khasnya, “boleh–boleh”. “Mau ngapain mb’?” Tanya ku lagi. “ini goreng telur”. Aku pun membantu mb’ Dwi untuk menggoreng telur. Entah apa saja dialog kami, yang jelas sekali–kali tawa menghiasi obrolan kami, apalagi ketika melihat telur kami yang gosong. Akhirnya keakraban hadir ditengah–tengah kami berdua. Alhamdulillah Allah membukakan hati mb’ Dwi untuk aku, he. . .., memang diantara para akhwat hanya dengan mb’ Dwi aku belum bisa berkomunikasi dengan pas, soalnya mb’ Dwi dan rombongan dari Semarang datang telat. Setelah selesai kami pun membantu Lili dan Teh Nurul masak sup. Aku pun sibuk mondar mandir gak jelas, jadi tukang pos antara akhwat ke ikhwan.

Malam ini suasana cukup cair diantara kami, lebih terasa akrab dibanding sebelumnya. Padahal kami sekumpulan orang yang baru kenal dan bertemu, tapi yang ku rasa seperti sudah kenal sejak lama. Mungkin ini yang dinamakan ukhuwah islamiah. Innamal mu’minu na ikhwah (QS. 49 : 10), benar penggalan ayat ini. Aku pun mulai menikmati perjalanan ini. Indah, yah sangat indah.

* * *

            Fajar menyingsing, kabut putih nan pekat menambah keindahan Ranu Kumbolo menghapus lelah dari diri ini. Suasana pagi dirombongan kami sudah riuh saja, gara–gara telur puyuh yang semalam diganyang oleh para ikhwan, dan tertuduh si k’ Yusef sebagai petugas logistik dan para senior lainnya (k’ Yuda, k’ Ade, dan k’ Azami), dan yang paling ribut ya Teh Nurul soal itu telur. Akhirnya, ikhwan kena iqob. Kata teh Nurul telurnya khusus akhwat. Hahai . . . ada – ada saja.

Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Sebelumnya kami disibukan dengan packing. Riuh suasana packing pagi ini. Sebenarnya isi carrier aku SB 3 milik ku, Lili, sama k’ Yuda, nesting, dan beberapa logistic. SB k’ Yuda bisa mampir ke carrier aku gara – gara tukeran dengan tenda yang ku bawa dari Palembang, gak mungkin dah aku bawa satu set tenda sampai Kalimati, cukup membawanya dari Palembang – Malang. Makasih deh buat k’ Yuda yang sudah bawain tendanya, eh k’ Yusef juga soalnya pindah tangan itu tenda dari k’ Yuda ke k’ Yusef. Tapi, sampai sekarang pasaknya masih ditangan mereka. Aduh. . .pasak, kirim dunk pasaknya. . ..

Satu hal yang ku ingat setiap habis packing akan melanjutkan perjalanan ada satu orang yang meriksa berat carrier aku lalu geleng – geleng, dia adalah k’ Azami. Tapi, meriksa aja itu orang. Gak deng, menawarkan bantuan juga. Makasih buat k’ Azami. Sebenarnya k’ Azami ini seangkatan dengan aku, tapi kami gak percaya kalau dia angkatan 2009. Akhirnya untuk membuktikan pas di stasiun kereta api di Malang dia menunjukkan KTP nya, bener deh kalau dia lahiran 1991, sama kayak aku. Maaf ya. . .

Cerita lain sebelum keberangkatan kami, para akhwat (tepatnya the nurul, lutfi, dan Detty) lagi sibuk nyari minum karena stok minum habis. Para ikhwan sih nyuruh mereka minum air danau, tapi mereka gak mau. Hm. . .payah ne. akhirnya ku tawarkan minum di botol air mineral didekatku. Dengan gaya sok cool ku tawarkan minum ke mereka. Eh, mereka ragu gitu sambil nanya’ – nanya’ air apa. Dengan pembawaan berwibawa ku bilang sama mereka, “udah minum aja.” Sambil melirik Isma (diantara kami para akhwat dia itu yang paling sering naik gunung). Si Isma nya senyum – senyum aja tuh. Akhirnya mereka minum juga. “gimana rasanya?” tanyaku. “lumayan.” Jawab teh Nurul. “air apa ini?” masih saja bertanya. Akhirnya tawaku pun meledak. Yah, mereka pun menyadari kalau itu adalah air danau Ranu Kumbolo.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan penuh semangat, formasi kembali leader didepan kami. Kami pun akan menyusuri yang katanya tanjakkan cinta. Katanya gak boleh noleh kebelakang gitu, tapi sayang banget dah kalau gak noleh kebelakang, pemandangannya itu lho. . .masya Allah. . .apik tenan rek. Hal yang ku tunggu dibalik tanjakkan ini adalah hamparan luas bunga yang mirip lavender di Oro – oro ombo, tapi kata k’ Ade baru saja terbakar jadi kering deh, gak akan ku jumpai deh, yah sedikit kecewa sebenarnya. Yah, perjalanan terus berlanjut hingga di Cemoro Kandang. Karena, tak mendapatkan tempat sholat yang pas akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jambangan. Perjalanan kesana terasa sangat jauh, terasa sangat berat. Ku lirik Ela, ia pun seperti orang yang ogah – ogahan. Didepan kami ada k’ Husain, awalnya kami masih belum begitu akrab dengan beliau tapi karena perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati membuat kami akrab sama kakak yang satu ini. Soalnya sepanjang perjalanan aku sama Ela di PHP-in terus sama orang ini, tau PHP? PHP itu Pemberi Harapan Palsu, he. . .karena kondisi track yang tanjakkan terus jadi beliau selalu bilang bentar lagi sampai atau didepan ada bonus. Hm. . .capek deh di PHP-in terus, tapi terima kasih buat K’ Husain karena itu menjadi motivasi dan pemicu buat kami berdua.

Akhirnya tempat untuk shalat diketemukan. Alhamdulillah. . . yah, sebelum shalat aku dan Ela menyandarkan tubuh kami di pohon yang berdiri dengan kokoh. Hm. . .sebentar melepas lelah. Tiba – tiba ada yang bilang, kalau disitu tempat pembuangan lupa siapa yang ngomong (ntar kalau uda baca ngaku ya). Denger kayak begituan, mulai dah si usil dan reseh Rizky Maulana seneng habis – habisan sampai – sampai bergaya ngefoto itu tempat aku dan Ela duduk, entah beneran atau tidak itu anak. Dengan malas aku dan Ela akhirnya pindah juga dari tempat itu. Hm. . .

Suasana berubah jadi khidmat, sangat tenang dan penuh dengan ke khusyukkan. Suasana alam yang dipadu dengan ketundukkan hamba ke pada Sang Pencipta menambah suasana syahdu. Ah, aku rindu suasana shalat berjama’ah di alam terbuka. Semoga Allah kembali mempertemukan kita di ekspedisi – ekspedisi selanjutnya.

Gambar       Gambar

Ranu Kumbolo

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

September 2013
M T W T F S S
« Feb   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Terpopuler

Arsip

Anda pengunjung ke-

  • 25,383 hits

Friend

Ngobrol

The Big DayAugust 1st, 2012
Semangat Ramadhan!!! Bentar lage Milad. Bagaimanakah memaknai bertambahnya umur?

Black Orchid and The Death

var nulisbukwidgetid="black-orchid-the-death";http://nulisbuku.com/application/assets/js/widget/mainwidget.js

%d bloggers like this: