Islam : Berbicara Tentang Korupsi

1

July 8, 2012 by Keikoalkayyisah


Wew! Setiap nonton berita dari tv pasti beritanya tidak lepas dari yang namanya kasus korupsi.  Yang kasus hambalang, wisma atlet, sampai al – qur’an saja dikorupsi. Baru – baru ini juga ada kunjungan KPK kesetiap rumah calon gubernur DKI untuk mengecek harta milik mereka, kenapa tidak ada yag terungkap kalau ada yang korupsi ya? Banyaknye korupsi di negeri ini! ! !

            Korupsi merupakan bentuk penyelewengan atau penyalahgunaan uang Negara (perusahaan dsb) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. (KBBI ofline).

            Hm. . .karena panas ini telinga denger berita yang gitu – gitu terus, aku jadi penasaran bagaimana ya dalam islam itu sendiri? Kemudian aku membuka buku Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Quthb), ku liat daftar isi setiap buku Tafsir yang aku punya kalau saja ada tafsir ayat yang membahas tentang korupsi. Yah, akhirnya mata ku menemukan apa yang dicari korupsi dan Risikonya di Akhirat Nanti (hal. 299, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an permulaan surah Ali Imran : 1 – 168, terbitan gema insani).

            Setelah aku baca dengan sedikit yang baru mampu ku pahami, aku jadi ingin berbagi kepada kalian dan akhirnya aku kutip sedikit dari buku itu. Ini nih kutipannya, ayo dibaca agak panjang sech emang tapi yang pentingkan ilmunya.

Dimulai dari satu ayat :

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” ( Ali Imran : 161 )

 

Ayat diatas menunjukkan tentang nubuwwah dan kekhasan akhlak rasul, untuk menjadi titik sentral rajutan pengarahan kepada sikap amanah, larangan berbuat korup, mengingatkan kepada hisab, dan akan dibalasnya dengan sempurna setiap orang atas semua perbuatannya dengan tanpa dizalimi sedikit pun.

Diatas disebutkan tentang korup, yah korup telah disingung dalam ayat diatas. Coba kit abaca kembali ayat itu,

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat . . .”

Sebenernya ayat ini turun terkait salah satu factor yang menyebabkan pasukkan pemanah pada saat perang Uhud meninggalkan posnya di gunung ialah kekhawatiran mereka bahwa Rasulullah tidak memberikan bagian harta rampasan kepada mereka karena sebagian kaum munafik memperbincangkan bahwa sebagian dari harta rampasan Perang Badar sebelumnya telah digelapkan dan merekan tidak malu menyebut – nyebut nama Nabi saw. dalam masalah ini. Ayat ini turun untuk menetapkan hukum umum yang menolak kemungkinan para nabi melakukan korupsi yakni menyembunyikan sebagian harta rampasan untuk dirinya atau membagikannya kepada sebagian tentara tanpa sebagian yang lain, atau berkhianat terhadap sesuatu secara umum,

 “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat . . .”

Maksud dari penggalan ayat ini ada sebuah penafian terhadap kemungkinan terjadinya perbuatan itu pada Nabi, bukan penafian kehalalan atau kebolehannya karena tabiat Nabi yang amanah, adil, dan selalu menjaga diri dari hal – hal yang tidak pantas itu, tidak memungkinkan terjadinya kecurangan dan korup dari beliau.

Kemudian diancamlah orang – orang korup dan menyembunyikan harta umum atau harta rampasan dengan ancaman yang sangat menakutkan,

“. . . Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa telah diinformasikan kepadanya oleh Sufyan, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Abu Huamid as-Sa’idi, dia berkata , “Rasulullah saw. menugaskan seorang laki – laki dari suku al-Azd yang bernama Ibnul Lutaibah untuk memungut sedekah. Maka, setelah dating (dari menjalankan tugasnya), ia berkata (kepada Rasulullah saw.),”Ini untukmu dan ini dihadiahkan untukku.” Lalu Rasulullah saw. berdiri diatas mimbar seraya bersabda,

“Bagaimana urusan petugas itu? Kami tugaskan dia untuk melakukan suatu tugas, tetapi kemudian dia berkata,”Ini untukmu dan ini dihadiahkan untukku.” Mengapa dia tidak duduk saja di rumah aya ibunya, lantas menunggu apakah ada orang yang member hadiah kepadanya ataukah tidak? Demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang mengambilnya melainkan ia akan membawanya pada hari kiamat diatas pundaknya dan barang korupsinya itu berupa unta yang berteriak – teriak, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.”

Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangan beliau hingga kami melihat putihnya ketiak beliau, kemudian beliau berucap,”Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikan (risalah).” Beliau mengucapkan perkataan ini tiga kali. (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari Abu Hurairah, dia berkata,”Rasulullah saw. berdiri ditengah – tengah pada suatu hari, lalu beliau menyebut – nyebut masalah korupsi dan beliau memandang masalah ini sebagai masalah besar, lalu beliau bersabda,

“Sungguh aku akan melihat seseorang di antara kamu datang pada hari kiamat sedang diatas pundaknya terdapat unta yang bersuara, lalu dia berkata,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Kemudian aku menjawab,”Aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari siksa Allah, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.”  Sungguh aku akan menjumpai seseorang di antara kamu datang pada hari kiamat sedang diatas pundaknya terdapat kuda yang meringkik, lalu dia berkata,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Kemudian aku menjawab,”Aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari siksa Allah, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.” Sungguh aku akan menjumpai seseorang dari kamu datang pada hari kiamat sedang diatas pundaknya terdapat benda – benda yang tidak bersuara, lalu dia berkata,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Lalu aku menjawab,”Aku tidak dapat menolong kamu dari azab Allah sedikit pun, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Hadits Abu Hayyan).

  Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari Adi bin Umairah al-Kindi, dia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,

“Hai manusia! Barangsiapa yang menjalankan tugas untuk kami, lalu dia menyembunyikan dari kami barang sebesar jarum atau lebih, maka apa yang disembunyikannya itu adalah kecurangan (korupsi) yang kelak akan dibawanya pada hari kiamat.”

Kemudian berdirilah seorang laki – laki hitam dari kalangan Anshar, Mujahid berkata,”Dia adalah Sa’ad bin Ubadah, seakan – akan aku melihat kepadanya.“ Lalu dia berkata,”Wahai Rasulullah, terimalah aku untuk menjalankan tugas untukmu.” Beliau bertanya,”Apakah itu?” Dia berkata,”Aku mendengar engkau bersabda begini dan begini.” Beliau menjawab,”Saya mengucapkan perkataan itu lagi sekarang, yaitu,

“Barangsiapa yang kami tugasi untuk mengerjakan suatu tugas, maka hendaklah ia serahkan hasilnya, sedikit atau banyak. Maka, apa yang diberikan kepadanya bolehlah ia ambil. Dan, apa yang dilarang mengambilnya, maka hendaklah ia berhenti.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari beberapa jalan dari Ismail bin Abu Rafi’)

Ayat Al-Qur’an dan hadits – hadits Nabawi yang mulia ini telah menunaikan tugasnya di dalam mendidik kaum muslimin sehingga membuahkan hasil yang sangat menakjubkan dan membentuk masyarakat yang bersikap amanah, wara’ ‘menghindari sesuatu yang diragukan kehalalanya’, dan merasa jijik terhadap tindak korupsi dalam bentuk apa pun, yang belum pernah tergambarkan dalam masyarakat mana pun. Pernah ada seorang lelaki muslim yang sudah tua mendapatkan rampasan perang yang sangat berharga dan tidak ada seorangpun yang melihatnya, lalu dia menyerahkannya kepada komandan dan tidak tergerak hatinya untuk mengambilnya sedikit pun karena takut terkena sasaran nash Al-Qur’an yang menakutkan itu. Dia khawatir akan bertemu Nabinya sedang dia dalam keadaan yang memilukan dan memalukan pada hari kiamat, sebagaimana yang telah beliau peringatkan.

Begitulah kehidupan praktis seorang muslim dan alam akhirat begitu nyata dalam perasaannya, seakan – akan dia melihat wujud dirinya seperti itu di hadapan nabinya dan Tuhannya. Oleh karena itu, dia menjaga dirinya dan merasa takut kalau sampai mengalami keadaan seperti itu. Begitulah rahasia takwa dan rasa takutnya. Maka, akhirat dirasakannya sebagai sesuatu yang nyata yang ditempuh dalam hidupnya, bukan sekadar ancaman yang masih jauh masa terjadinya. Dia merasa yakin, tanpa dicampuri keraguan sedikitpun, bahwa setiap orang akan mendapatkan pembalasan secara sempurna dari semua yang dilakukannya, sedang mereka tidak dianiaya sedikit pun.

Demikianlah islam mendidik kaum muslimin dengan pendidikan yang menakjubkan itu yang hamper – hamper informasinya dianggap sebagai dongeng.

Setelah memaparkan pembicaraan tentang harta rampasan dan masalah kecurangan (korupsi), ayat selanjutnya menimbang antara beberapa macam nilai hakiki yang layak mendapatkan perhatian dari hati orang yang beriman, dan hendaknya mereka sibuk dengannya,

Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.  (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran : 162 – 163)

  Inilah peralihan masalah yang dibawah bayang – bayangnya terasa kecil harta rampasan itu dan terasa kecil memikirkan barang – barang itu. Ini adalah sentuhan manhaj qur’ani yang menakjubkan dalam mendidik hati, mengangkat perhatiannya, memperluas cakrawalanya, dan menyibukkannya dengan perlombaan yang sebenarnya di lapangan pokok.

Masing – masing mendapatkan tingkatan sesuai dengan haknya, maka tidak ada kezaliman, tidak ada penganiayaan, tidak ada kecintaan, dan tidak ada pilih kasih!

“. . .Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

 

Udah dibaca semua?

Hm. . . ternyata dalam Al – Qur’an pun telah disinggung soal korupsi, yang tertuang dalam surah Ali Imran ayat 161 yang telah terjadi dalam kehidupan Rasul. Ini merupakan sebuah pembelajaran untuk umat muslim saat ini dengan kejadian yang menimpa umat muslim terdahulu. Dan Allah pun telah menjanjikan pembalasan terhadap orang – orang yang melakukan kecurangan.  Namun, kemudian yang ditegaskan disini adalah bagaimana kita dalam menyikapi hal – hal yang ditugasi kepada kita, curang kah atau tidak, yang kemudian Allah akan menjanjikan sebuah pembalasan yang berbeda untuk orang yang mengikuti keridhaan Allah dengan yang tidak, pembalasan itu disesuaikan dengan apa yang diperbuat.

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah. . .”

Wallhu’alam. . .

Ada baikanya kita sebagai muslim lebih banyak lagi membaca ayat – ayat Allah dan Hadits Rasulullah dan mengkajinya bersama dengan orang – orang yang memang mumpuni dalam hal kajian ayat atau dengan membaca buku – buku tafsir. Selain itu perlu juga membaca Sirah Nabawi atau sejarah kehidupan Nabi yang lebih jelas walau sebenarnya semua sudah tertuang dalam Al – Qur’an.

Advertisements

One thought on “Islam : Berbicara Tentang Korupsi

  1. who are you, Dr. Shin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Terpopuler

Arsip

Anda pengunjung ke-

  • 25,383 hits

Friend

Ngobrol

The Big DayAugust 1st, 2012
Semangat Ramadhan!!! Bentar lage Milad. Bagaimanakah memaknai bertambahnya umur?

Black Orchid and The Death

var nulisbukwidgetid="black-orchid-the-death";http://nulisbuku.com/application/assets/js/widget/mainwidget.js

%d bloggers like this: